That Love Is All And Love Is Everyone It's Knowing

Salahuddin Ayyubi identik dengan Perang Salib. Panglima perang dengan kepemimpinan yang bijak itu adalah pahlawan besar Islam, yang juga dihormati di dunia Barat.
Dalam wasiatnya, Saladin berpesan . “Anakku, Jangan tumpahkan darah. Sebab
darah yang terpercik tak akan tertidur…"

Saat Saladin bertempur dengan panglima tentara Salib Raja Richard (the Lion Heart), begitu mendapati sang raja sakit, Saladin segera menyerukan pasukannya untuk menghentikan pertempuran. Ia kemudian mengirimkan dokter untuk menyembuhkan penyakit Raja Richard, beserta apel yang dibungkus dengan salju!
Saat bertempur kembali dan mendapati kuda sang raja terjatuh, Saladin segera mengirim dua kuda barunya yang masih segar bugar pada sang raja.
Kebaikan Saladin itu membuat kagum raja Richard. Dalam salah satu statemennya, ia mengatakan : "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi ." Tak heran jika kemudian Raja Richard juga membalas kebaikan Saladin. Saat pertempuran, demi mendapati pedang Saladin tumpul, Raja Richard segera menghentikan pertempuran, untuk memberi kesempatan pada Saladin mengasah pedangnya kembali.
Dalam aroma peperangan yang penuh kebencian dan dendam, indahnya persahabatan justru disuguhkan oleh kedua tokoh tersebut. Sebuah sikap yang semestinya diteladani oleh siapapun yang hidup di era setelah mereka. Bahwa musuhpun, sesungguhnya tak patut dibenci. Yang patut dibenci adalah peperangan itu sendiri.

Saladin, begitu dia dikenal di Barat, adalah pejuang Kurdi dari Tikrit (utara Irak saat ini) yang hidup pada 1138-1193. Dia menyatukan kembali Mesir, Suriah, dan Mesopotamia (Irak), serta terkenal dengan kesuksesannya mengusir Pasukan Salib Eropa keluar dari Yerusalem. Pasukan Salib adalah manifestasi pertama imperialisme Eropa.

Saladin dilahirkan dari keluarga Kurdi yang terkemuka. Pada malam kelahiran Saladin, ayahnya, Najm ad-Din Ayyub, mengumpulkan keluarganya dan pindah ke Aleppo. Di sana, ayahnya mengabdi kepada Imaduddin Zangi bin Aq Sonqur, gubernur Turki yang berkuasa di Suriah utara.

Tumbuh di Balbek dan Damaskus, Saladin awalnya tak berbeda dengan anak muda kebanyakan, lebih banyak mempelajari agama daripada memperoleh latihan militer. Namun, panglima perang bernama asli Salahuddin Yusuf ini mempersatukan dan memimpin dunia Muslim pada 1187, merebut kembali Yerusalem untuk Muslim setelah mengalahkan Raja Yerusalem dalam Perang Hattin di dekat Danau Galilee.

Ketika pasukannya memasuki kota Yerusalem, mereka tidak diizinkan untuk membunuh orang sipil, merampok, atau menghancurkan kota. Menjelang penyerbuan ke Yerusalem itu, Saladin memberi kesempatan kepada penguasa Kristen untuk mempersiapkan diri agar bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Saladin pun tak menjadikan warga Nasrani sebagai budak, melainkan malah membebaskan sebagian besar mereka.

Kebaikan hati Saladin ini bertolak belakang ketika Pasukan Salib dari Eropa merebut Yerusalem pada 1099. Saat itu 70 ribu orang Muslim di Yerusalem dibantai, sementara sisa-sisa warga Yahudi digiring ke sinagog dan dibakar.

Orang-orang Kristen dari barat Eropa terheran-heran dengan kesuksesan Saladin merebut Yerusalem. Paus Gregory VIII kemudian memerintahkan pasukan salib yang lain untuk mendapatkan kembali Yerusalem untuk Kristiani. Ini adalah awal Perang Salib Ketiga. Perang ini dipimpin oleh Richard I (Richard the Lionheart), Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, dan Raja King Philip II dari Prancis. Mereka adalah tiga tokoh penting di barat Eropa. Perang ini berlangsung antara 1189-1192.

Saladin dan Richard the Lionheart adalah dua nama yang mendominasi kisah-kisah Perang Salib. Salah satu kisah yang membuktikan kelembutan hati Saladin adalah ketika Richard jatuh sakit di tengah-tengah masa pertempuran. Bukannya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang, Saladin justru mengirimkan dokter untuk Richard, juga buah pir yang dikemas dalam salju.

Itulah Saladin. Selain dikagumi di kalangan Muslim, dia memiliki reputasi besar di kalangan Kristen Eropa. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Sepanjang berjuang, Saladin selalu membawa sebuah peti yang tertutup rapat. Banyak yang menyangka isi peti itu adalah batu permata atau barang-barang berharga lainnya. Namun, ketika Saladin wafat pada 4 Maret 1193 dan peti itu dibuka, ditemukan sehelai surat wasiat dan kain kafan, serta segumpal tanah.

Dalam suratnya Saladin berpesan, "Kafankanlah aku dengan kain kafan yang pernah dibasaih air zam-zam ini, yang pernah mengunjungi Kakbah yang mulia dan makam Rasulullah. Tanah ini adalah sisa-sisa perang. Buatlah kepalan untuk alas kepalaku di dalam kubur."

No comments:

Post a Comment